Showing posts with label Rohani Islami. Show all posts
Showing posts with label Rohani Islami. Show all posts

BUKTI MUKJIZAT NABI MUSA

SUBHANALLAH.. MAHA SUCI ALLAH ! Memang mukjizat yang diberikan kepada para nabi luar biasa hebatnya bahkan diluar nalar manusia. Masih ingatkah teman-teman dengan kisah mukjizat Nabi Musa yang membelah laut merah dengan tongkatnya? Jika salah satu diantara teman-teman yang menganggap kisah tersebut hanya merupakan dongeng belaka, sekarang mari kita simak tulisan yang saya uraikan dibawah ini.

Seorang Arkeolog bernama Ron Wyatt pada ahir tahun 1988 silam mengklaim bahwa dirinya telah menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur kuno didasar laut merah. Menurutnya, mungkin ini merupakan bangkai kereta tempur Pharaohyang tenggelam dilautan tsb saat digunakan untuk mengejar Musa bersama para pengikutnya .
Menurut pengakuannya, selain menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur berkuda, Wyatt bersama para krunya juga menemukan beberapa tulang manusia dan tulang kuda ditempatyang sama.

Temuan ini tentunya semakin memperkuat dugaan bahwa sisa2 tulang belulang itu merupakan bagian dari kerangka para bala tentara Pharaohyang tenggelam di laut Merah. Apalagi dari hasil pengujian yang dilakukan di Stockhlom University terhadap beberapa sisa tulang belulang yang berhasil ditemukan,memang benar adanya bahwa struktur dan kandungan beberapa tulang telah berusia sekitar 3500 tahun silam, dimana menurut sejarah,kejadian pengejaran itu juga terjadi dalam kurun waktuyang sama.

Gambar Poros Roda Dari Salah Satu Kereta Kuda


Selain itu, ada suatu benda menarik yang juga berhasil ditemukan, yaitu poros roda dari salah satu kereta kuda yang kini keseluruhannya telah tertutup oleh batu karang, sehingga untuk saat ini bentuk aslinya sangat sulit untuk dilihat secara jelas. Mungkin Allah sengaja melindungi benda ini untuk menunjukkan kepadakita semua bahwa mukjizat yang diturunkan kepada Nabi2-Nya merupakan suatu hal yang nyata dan bukan merupakan cerita karangan belaka. Diantara beberapa bangkai kereta tadi, ditemukan pula sebuah roda dengan 4 buah jerujiyang terbuat dari emas. Sepertinya, inilah sisa dari roda kereta kuda yang ditunggangi oleh Pharaoh sang raja.

Gambar Rute Sungai Nil Diambil Dari Peta


Sekarang mari kita perhatikan gambar diatas, Pada bagian peta yang dilingkari (lingkaran merah), menurut para ahli kira-kira disitulah lokasi dimana Nabi Musa bersama para kaumnya menyebrangi laut Merah. Lokasi penyeberangan diperkirakan berada di Teluk Aqaba di Nuweiba. Kedalaman maksimum perairan di sekitar lokasi penyeberangan adalah 800 meter di sisi ke arah Mesir dan 900 meter di sisi ke arah Arab. Sementara itu di sisi utara dan selatan lintasan penyeberangan (garis merah) kedalamannya mencapai 1500 meter. Kemiringan laut dari Nuweiba ke arah Teluk Aqaba sekitar 1/14 atau 4 derajat, sementara itu dari Teluk Nuweiba ke arah daratan Arab sekitar 1/10 atau 6 derajat

Diperkirakan jarak antara Nuweiba ke Arab sekitar 1800 meter.Lebar lintasan Laut Merah yang terbelah diperkirakan 900 meter. Dapatkah kita membayangkan berapa gaya yang diperlukan untuk dapat membelah air laut hingga memiliki lebar lintasan 900 meter dengan jarak 1800 meter pada kedalaman perairanyang rata2 mencapai ratusan meter untuk waktu yang cukup lama, mengingat pengikut Nabi Musa yang menurut sejarah berjumlah ribuan? (menurut tulisan lain diperkirakan jaraknya mencapai 7 km, dengan jumlah pengikut Nabi Musa sekitar 600.000 orang dan waktu yang ditempuh untuk menyeberang sekitar 4 jam).

Menurut sebuah perhitungan, diperkirakan diperlukan tekanan (gaya per satuan luas) sebesar 2.800.000 Newton/m2 atau setara dengan tekananyang kita terima Jika menyelam di laut hingga kedalaman 280 meter. Jika kita kaitkan dengan kecepatan angin,menurut beberapa perhitungan, setidaknya diperlukan hembusan angin dengan kecepatan konstan 30 meter/detik (108 km/jam) sepanjang malam untuk dapat membelah dan mempertahankan belahan air laut tersebut dalam jangka waktu 4 jam!!!.

Maha Suci Allah yang Menciptakan Dunia, Beserta Mukjizat Di dalam Nabi..
Bagaimana Komentar Teman-Teman??

Malaikat Mndoakan Manusia

Subhanallah....
Allah SWT berfirman, “Sebenarnya (malaikat – malaikat itu) adalah hamba – hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah – perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa’at melainkan kepada orang – orang yang diridhai Allah , dan mereka selalu berhati – hati karena takut kepada-Nya” (QS Al Anbiyaa’ 26-28)

Inilah orang – orang yang didoakan oleh para malaikat :


1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci’” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang duduk menunggu shalat. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’” (Shahih Muslim no. 469)
3. Orang – orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat. Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang – orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalm shaf). Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang – orang yang menyambung shaf – shaf” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah . Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu” (Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia’” (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)


7. Orang – orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, ” Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mere ka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat’” (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, ” Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan’” (Shahih Muslim no. 2733)

9. Orang – orang yang berinfak. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit’” (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10. Orang yang makan sahur. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang – orang yang makan sahur” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11. Orang yang menjenguk orang sakit. Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh” (Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)

12. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain” (dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

Maraji’ :
Disarikan dari Buku Orang – orang yang Didoakan Malaikat, Syaikh Fadhl Ilahi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005
Orang – orang yang Didoakan oleh Malaikat
Oleh : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi

Mengenal Shalat Khusuf

Mengenal Shalat Khusuf
Perhitungan Gerhana Matahari Cincin Di kota-kota Indonesia 15 Januari 2010
Lihat Tabel Waktunya
Pada zaman Rasululah SAW pernah terjadi Gerhana Matahari bertepatan dengan hari meninggalnya Ibrahim, putra Rasulullah SAW. Menurut KH. E. Abdurrahman gerhana tersebut terjadi pada hari Senin, 29 Syawwal 10 H atau 27 Januari 623 M, pukul 08.30. Berdasarkan riwayat yang shahih, sharih dan rajih Shalat Gerhana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW sebanyak 2 rakaat dengan 4 kali ruku’ dan 4 kali sujud. Artinya pada setiap rakaat ada 2 ruku’ dan 2 sujud. Berikut ini dalil dan keterangannya,

Pertama
"Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, ‘telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah SAW. Beliau lalu mengutus seorang penyeru mengumandangkan “ASH-SHALATU JAMI’AH”. Kemudian beliau shalat empat kali ruku pada dua rakaat dan empat kali sujud.” (Shahih al-Bukhari I:362 no. 1016, Shahih Muslim II:620 no. 901, Shahih Ibnu Hibban VI:93 no. 2850, Sunan an-Nasai II:127no. 1465)

kedua
Sahabat Ibnu Abas meriwayatkan, “Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah SAW, lalu beliau shalat, yaitu beliau berdiri panjang (lama) kira-kira (selama) membaca surat al-Baqarah, kemudian beliau ruku’ satu ruku’ yang panjang, kemudian beliau bangkit, lalu berdiri yang panjang, tetapi lebih pendek dari berdirinya yang pertama, kemudian beliau ruku satu ruku’ yang panjang, tetapi lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian beliau bangkit, lalu beliau sujud. Kemudian beliau berdiri yang panjang, tetapi lebih pendek dari berdirinya yang pertama, kemudian beliau ruku’, ruku’ yang panjang, tetapi lebih pendek dari ruku’nya yang pertama, kemudian beliau bangkit, lalu berdiri yang panjang, tetapi lebih pendek dari berdirinya yang pertama, kemudian beliau angkat kepalanya, lalu sujud, kemudian beliau salam, sedang matahari pun sudah terang, lalu beliau berkhutbah di hadapan orang ramai." (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Ketiga
"Dari Mughirah bin Syu’bah, ia berkata, ‘Telah terjadi germaha matahari pada masa Rasulullah SAW pada hari kematian Ibrahim. Orang-orang berkata, ‘telah gerhana matahari karena kematian Ibrahim’. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah; keduanya tidak gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Karena itu, apabila kamu melihat keduanya gerhana, maka berdo’alah kepada Allah, dan shalatlah hingga ia lepas.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Keempat
Dalam riwayat Ahmad dari ‘Aisyah radhiyallahu anha diterangkan,"Telah terjadi gerhana pada zaman Rasulullah saw, beliau kemudian mendatangi tempat shalat, lalu bertakbir; dan orang-orang pun bertakbir. Kemudian (dalam shalat) beliau membaca dan beliau mengeraskan bacaan itu dan lama berdiri."(Musnad Ahmad bin Hanbal VI:76 no. 24517)

Kelima
Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah; keduanya tidak gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Apabila kamu melihat kejadian itu, segeralah ke masjid." (HR. Ahmad, Musnad Imam Ahmad bin hanbal V:428 no. 23679 dari Mahmud bin Labid)

Dari hadits-hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa:

Shalat Gerhana (matahari/bulan) dilaksanakan sebanyak 2 rakaat, dengan 4 kali ruku’ dan 4 kali sujud. Setiap rakaat ada 2 ruku’.

Caranya:
1.Takbiratul Ihram, kemudian membaca do’a iftitah, lalu membaca surat al-Fatihah, kemudian membaca surat, lalu ruku’, kemudian bangkit dari ruku’, lalu membaca surat al-Fatihah dan surat lagi, lalu ruku’, bangkit, I’tidal, kemudian sujud dengan 2 kali sujud. Kemudian lakukan rakaat yang ke-2 seperti rakaat yang pertama
2.Bacaan Shalat Gerhana dijaharkan (nyaring) seperti shalat Ied
3.Tidak diawali dengan adzan dan qamat
4.Dilaksanakan secara berjamaah
5.Setelah shalat diadakan khutbah
6.Sebelum shalat, dikumandangkan takbir sebagaimana takbir pada shalat hari raya.
7.Dilaksanakan pada saat sedang terjadi gerhana.

Wa Allahu A’lam

Perbedaan Pendapat

Perbedaan Pendapat
Sebuah perbedaan antara konsep pendapat satu dengan yang lainnya di suatu pertemuan maupun forum yang dihadiri mahasiswa dalam suatu kampus yang berbeda fakultas, hal yang sangat sering kita alami karena sebuah karakter dan konsep pemikiran seorang manusia satu dengan yang lainnya memang tidak selalu serupa dan berjalan sama, karena apa? karena ruang lingkup kehidupan masing-masing individu yang berbeda-beda, bagaimanakah kita menanggapinya? apa kita harus meyakini sebuah statement atau pendapat yang kita kukuhkan sebagai pendapat yang paling benar?

Semua tergantung situasi kondisi dan penyebab suatu pendapat yang nantinya mengakibatkan efek terhadap pendapat kita atau tidak. Sebuah pendapat yang benar memang harus kita pegang teguh hal tersebut, karena sebuah opini yang terlintas di pemikiran kita adalah suatu bagian dari prinsip hidup dari perwakilan tingkah laku kita sehari-hari, dan jika DISALAHKAN atau TIDAK DITERIMA berarti sebuah bagian dari prinsip hidup kita tidak disetujui oleh pendapat yang melongsorkan sebuah pendapat kita tersebut! Dalam prinsipnya sebuah pendapat yang kita pegang dan memang merasa cocok dengan apa yang kita lakukan dengan aktivitas kita selama ini, wajib untuk kita teguhkan dengan sebuah contoh, pemisalan, dan bukti-bukti yang lengkap sebagai pendukung pendapat kita tersebut, karena dengan bukti dan contoh tersebutlah yang bisa membantu kekuatan dari sebuah pendapat yang kita pikirkan.

Namun jika pendapat kita yang sedang disalahkan dan memang pendapat mahasiswa atau orang lain tersebut memiliki kebenaran yang lebih lengkap, di sinilah kita mengalami keraguan untuk mengubah pendapat atau tidak? semua memang tergantung pedoman prinsip hidup masing-masing, namun memang perlu diingatkan, Sebuah PRINSIP PENDAPAT merupakan bagian dari KARAKTER kita masing-masing, maukah anda disebut dengan manusia tidak punya pendirian?? memalukan memang, sehingga mau tidak mau teruslah memperjuangkan sebuah pendapat yang memang telah kita anggap itu adalah pendapat terbaik, yang kita inginkan, dan nantinya yang paling terbaik untuk yang merasakannya..

Sebuah perjuangan untuk menetapkan pendapat kita yang terbaik bukan berarti dengan menghalalkan segala cara seperti kekerasan otot atau sebagainya, karena sebuah isi forum merupakan berisi manusia yang mempunyai pikiran cerdas, mau berpikir kritis, serta peduli terhadap permasalahan yang dihadapi.. dan disetujui atau tidaknya pendapat kita oleh masing-masing pendengar dalam forum tersebut, terserah dari hati dan jiwa mereka masing-masing tentunya.. karena sebuah perbedaan pendapat untuk menuju kebaikan bersama tidak harus memaksa, namun terciptanya suatu kerukunan dan penyelesaian terbaik di akhir pedebatan pendapat itu adalah tujuan dari terciptanya perbedaan pendapat dari masing-masing pihak. Cu next Time

Berkah Laylatul Qadar ?

Berkah Laylatul Qadar ?
Pertanyaan ini muncul dalam pikiran sebagian kita karena adanya pernyataan Allah swt di dalam surat Al-Qadar.

Laylatul Qadar berkait erat dengan Nuzulul Qur’an (turunnya Al-Qur’an). Sehubungan dengan Nuzulul Qur’an dalam makna ini disebutkan setidaknya di dalam tiga surat Al-Qur’an: Surat Al-Qadar, surat Ad-Dukhkhan, dan surat Al-Baqarah.

Allah swt berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam Al-Qadar. Dan tahukah kamu apakah malam Al-Qadar itu? Malam Al-Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.” (Al-Qadar: 1-3).

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dibeda-bedakan (dipilah-pilah) segala persoalan yang penuh hikmah.” (Ad-Dukhkhan: 3-4).

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda.” (Al-Baqarah: 185)

Sehubungan Nuzulul Qur’an dalam makna, ayat-ayat tersebut menggunakan kata “Anzala” artinya turun sekaligus. Beda maknanya dengan Nuzulul Al-Qur’an yang menggunakan kata “Nazzala” artinya turun secara bertahap.

Berdasarkan firman Allah tersebut menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan Nuzulul Qur’an di sini adalah turun sekaligus. Makna Nuzulul Qur’an inilah yang berkait erat dengan Laylatul Qadar yang ditunggu-tunggu oleh kaum mukminin dan muslimin.

Nuzulul Qur’an ini yang dapat menciptakan perubahan kehidupan manusia, mengefektifkan waktu untuk mencapai tujuan. Karena itulah Allah menyatakan malam Al-Qadar lebih baik dari 1000 bulan = 84 tahun.

Nuzulul Qur’an inilah yang mempersingkat waktu kesempurnaan penyampaian misi Rasulullah saw dalam 23 tahun yang semestinya ratusan tahun seperti para nabi dan rasul sebelumnya.

Jika demikian, Al-Qur’an dalam wujud apa yang turun kepada Rasulullah saw di malam Al-Qadar? Al-Qur’an dalam wujud tekstual atau Ruhul Qur’an? Tekstual jelas bukan, karena itu butuh tahapan waktu. Sehingga makna yang tepat di sini adalah Ruhul Qur’an, energi Al-Qur’an. Makna inilah yang berkait erat dengan malam Al-Qadar, malam penetapan takdir.

Sekiranya umumnya kaum muslimin meyakini makna ini dan mengaplikasikan ke dalam aktivitas kehidupan tentu punya pengaruh yang besar. Bisa jadi akan lebih mengefektifkan waktu dan menciptakan perubahan sebagaimana yang telah dicapai oleh Rasulullah saw dalam mengemban misinya selama dalam 23 tahun.

Tapi disini masih ada persoalan, siapakah yang mampu menerima Ruhul Qur’an pasca Rasulullah saw? Gunung-gunung saja tidak mampu menerimanya sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah swt:

“Sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (Al-Hasyr: 21).

Dari uraian tersebut dapat kita breakdown ke dalam beberapa pertanyaan:

1. Jika Nuzul Qur’an dimaknai turun secara bertahab, bukankah Al-Qur’an dalam makna ini sudah tidak turun lagi? Lalu apa kaitannya dengan Malam Laylatul Qadar yang terjadi setiap tahun?

2. Jika Nuzulul Qur’an dimaknai turun sekaligus, apakah Ruhul Qur’an itu turun setiap tahun? Kepada siapa Ruhul Qur’an itu turun pasca Rasulullah saw, dan di akhir zaman ini turun kepada siapa? Ke dalam hati seluruh kaum muslimin? Mampukah hati mereka menerima Ruhul Qur’an? Sementara gunung2 saja tak mampu?

3. Jika Ruhul Qur’an turun bersamaan terjadinya Malam Al-Qadar, mengapa tidak menciptakan perubahan yang signifikan bagi kehidupan manusia?

4. Apakah Laylatul Qadar, malam penetapan takdir, dinyatakan lebih baik dari seribu bulan hanya bermakna fadhail (keutamaan) dalam nilai pahala nanti di akhirat? Dan tidak bermakna sebagai energi yang luar biasa yang dapat menciptakan perubahan, dan mengefektikan produktivitas manusia dalam kehidupan?

5. Apa yang dimaksudkan Laylatul Qadar sebagai malam penetapan takdir? Jika demikian, penetapan takdir terjadi setiap tahun di bulan Ramadhan pada malam Al-Qadar, apa maksudnya?

6. Apa yang dimaksud dengan kalimat surat Ad-Dukhkhan ayat 4: Fîhâ Yufraqu amrun hakîm ( di dalamnya dibeda-bedakan segala persoalan yang penuh hikmah).

http://shalatdoa.blogspot.com